+ 62 851-7991-3519
Hubungi Kami
Seluruh Berita Dari : Cerita Pendek
01/07/2025
Cerpen : Bayangan yang Tak Pernah Pergi
Super Admin
Dimas menatap keluar jendela kelas, matanya kosong, pikirannya berkelana. Di luar, langit mendung seolah ikut merayakan kemurungan hatinya. Di sisi lain kelas, Fajar sedang tertawa bersama teman-teman, dikelilingi perhatian, seperti biasa.“Kenapa sih, semua orang suka sama Fajar?” gumam Dimas dalam hati. “Padahal... dia nggak sepintar itu, nggak sepandai itu, cuma... lebih gampang disukai.”Sejak awal masuk SMA, Dimas dan Fajar memang bersahabat. Tapi semakin lama, Dimas merasa hubungan itu berat sebelah. Fajar terlalu bersinar, terlalu menarik perhatian. Nilai Fajar biasa saja, tapi guru-guru menyukainya karena sikapnya yang ramah. Teman-teman selalu mengajaknya nongkrong, termasuk Dita, cewek yang diam-diam disukai Dimas sejak kelas X.Dan hari itu, semuanya memuncak. Dimas melihat Dita tertawa renyah saat Fajar memberinya permen lollipop, candaan mereka mengalir tanpa beban. Dimas menggenggam buku di tangannya kuat-kuat, sampai ujungnya sedikit melengkung.Sepulang sekolah, Dimas menulis diari. Satu-satunya tempat ia bisa jujur:"Aku benci dia. Aku benci bagaimana semua orang selalu membandingkan aku dengan Fajar. Aku benci merasa seperti bayangan. Aku ingin dia pergi. Tapi aku tahu, aku hanya pengecut yang tak bisa berbuat apa-apa."Keesokan harinya, kabar mengejutkan datang. Fajar pindah sekolah, mendadak. Tak ada perpisahan, tak ada penjelasan. Hanya satu pesan suara yang ia kirim ke Dimas:"Gue minta maaf ya, Dim. Gue tahu lo ngerasa gue kayak... ngambil semua yang lo pengen. Tapi lo harus tahu, gue nggak pernah pengen saingan sama lo. Gue pindah karena alasan pribadi... Tapi gue harap lo bisa lebih bebas tanpa gue."Dimas bingung. Bebas? Harusnya dia senang, kan? Tapi yang ia rasakan malah... kosong.Waktu berlalu. Tanpa Fajar, Dimas memang lebih menonjol. Ia mulai dekat dengan Dita, mulai punya lebih banyak teman. Tapi setiap kali tertawa bersama mereka, ada perasaan aneh yang mengganjal.Hingga suatu hari, saat membantu guru bersih-bersih ruang BK, Dimas menemukan sebuah amplop tertulis: “Untuk Dimas – dari Fajar.”Tangannya gemetar saat membuka surat itu."Dim, kalau kamu baca ini, berarti aku sudah nggak di sekolah. Aku pindah karena harus terapi intensif. Aku kena kanker limfoma, dan mulai lelah berpura-pura sehat di depan semua orang. Aku tahu kamu sering ngerasa iri. Tapi tahu nggak? Aku selalu iri sama kamu. Kamu lebih pintar, lebih disiplin, dan nggak harus hidup dengan rasa takut tiap malam. Aku sering mikir, kalau aku bisa tukar tempat sama kamu, aku mau. Tapi hidup nggak sesimpel itu, ya?""Aku nggak minta lo maafin gue, cuma pengen lo tahu: kadang, yang kita iri-in... justru yang paling menderita diam-diam."Dimas duduk terdiam. Matanya berkaca-kaca. Dunia seakan runtuh dalam senyap.Dan untuk pertama kalinya, ia menangis — bukan karena cemburu, tapi karena kehilangan sesuatu yang tak akan pernah kembali.
10/06/2025
Cerpen : Langkah Pertama Vira
Super Admin
Pagi itu langit SMA Pancasila tampak mendung, seolah tahu bahwa hati Vira pun sedang serupa—penuh awan tebal dan pertanyaan tanpa jawaban.Vira, siswi kelas XI IPA, dikenal sebagai anak pintar tapi pendiam. Ia selalu duduk di bangku ketiga dari depan, dekat jendela, mencatat setiap penjelasan guru dengan rapi, dan tak pernah berbicara kecuali diminta.Namun hari itu berbeda. Ada pengumuman tentang lomba debat antar sekolah, dan Bu Anita, guru Bahasa Indonesia, menunjuk Vira sebagai salah satu perwakilan.“Aku?” tanya Vira dengan mata membesar. “Tapi saya tidak pandai bicara di depan orang banyak…”“Kamu tidak perlu sempurna, Vira. Kamu hanya perlu mulai,” jawab Bu Anita sambil tersenyum.Vira ingin menolak. Ia nyaris mengatakan bahwa ada banyak murid lain yang lebih fasih, lebih percaya diri, lebih ‘cocok’. Tapi ada sesuatu dalam nada bicara Bu Anita—keyakinan, mungkin—yang membuatnya diam dan mengangguk pelan.Latihan dimulai tiga hari kemudian. Vira dipasangkan dengan Rangga, siswa yang berkebalikan dengannya: ekspresif, lantang, dan… sedikit menyebalkan.“Kalau kamu cuma diam waktu debat, kita bisa kalah. Kamu tahu itu, kan?” celetuk Rangga saat latihan pertama.Vira menunduk. Kata-kata seperti menampar. Tapi alih-alih menyerah, ia pulang dan berdiri di depan cermin, melatih intonasi, mengatur napas, menyiapkan argumen.Seminggu berlalu. Lalu dua. Hingga tibalah hari lomba. Tim mereka berhadapan dengan sekolah favorit yang terkenal kuat dalam debat. Saat giliran Vira maju, tangannya gemetar. Tapi ia ingat kata-kata Bu Anita: "Kamu hanya perlu mulai."Dan ia mulai. Satu kalimat. Lalu dua. Perlahan, suaranya mantap. Ia menyampaikan argumen dengan tenang, logis, dan tajam. Wajah Rangga yang awalnya cemas, berubah menjadi takjub.Tim mereka tidak juara satu, tapi masuk tiga besar—prestasi pertama SMA Pancasila di lomba debat.Sepulang lomba, Rangga menepuk pundaknya.“Kamu jago juga kalau sudah mulai bicara. Kita harus latihan lagi buat lomba bulan depan!”Vira tersenyum kecil. Untuk pertama kalinya, ia merasa kata-katanya punya tempat, dan lebih dari itu—ia percaya pada dirinya sendiri.
03/06/2025
Cerpen : Jepretan Terakhir
Super Admin
Arga bukan siapa-siapa di sekolah. Ia bukan ketua OSIS, bukan atlet basket, bukan juga yang suaranya lantang di kelas. Ia tak punya lingkaran pertemanan ramai, apalagi pengikut di media sosial. Tapi ia punya satu hal yang jarang dimiliki anak seusianya—sebuah kamera tua, warisan dari ayahnya yang dulu seorang fotografer jalanan.Sejak kecil, Arga lebih suka berbicara lewat gambar. Ia jarang bersuara, tapi matanya tak pernah berhenti mencari cerita. Hasil jepretannya—entah bagaimana caranya—sering muncul diam-diam di mading sekolah. Potret anak-anak yang tertawa di lorong, bayangan pohon di tembok tua, guru yang menguap di tengah pelajaran. Tak ada nama, tak ada tanda tangan. Tapi semua tahu: itu pasti karya Arga.Lalu suatu hari, sekolah mengumumkan lomba dokumentasi kehidupan siswa. Hadiahnya: beasiswa penuh hingga lulus. Arga mendaftar, tanpa banyak bicara. Tak ada yang menyangka. Tapi ia tahu, ini mungkin satu-satunya jalan untuk bisa terus berjalan.Sejak hari itu, Arga mulai lebih aktif—bukan dalam kata, tapi dalam pengamatan. Ia membawa kameranya ke mana-mana, membingkai kehidupan sekolah dari balik lensa. Anak-anak yang bermain, daun yang jatuh, senyum yang samar.Tapi ada satu objek yang terus menarik perhatiannya: Reno.Reno adalah kebalikan Arga. Pintar, tenang, aktif di OSIS, dan selalu berhasil membuat orang merasa nyaman. Ia sosok teladan yang dihormati dan disukai semua orang. Tapi lensa Arga menangkap lebih dari yang mata biasa lihat.Dalam beberapa jepretan, Reno tersenyum saat bersama teman-temannya. Tapi ketika tak ada yang melihat, matanya tampak redup. Seolah menyimpan lelah yang tak bisa dibagi. Dalam satu foto yang diambil dari kejauhan, Reno berdiri sendiri di balkon lantai dua, memandangi langit senja. Tak ada senyum. Hanya tatapan kosong yang menggantung.Rasa penasaran membuat Arga mendekatinya. Perlahan, tanpa tergesa. Mereka mulai ngobrol sepulang sekolah—di perpustakaan, di taman, kadang hanya duduk diam. Reno, yang biasanya terlihat sempurna, mulai terbuka sedikit demi sedikit.Suatu sore, saat langit menggurat jingga dan angin membawa guguran daun, Reno bertanya, “Lo pernah ngerasa... hidup ini bukan tempat lo seharusnya ada?”Arga menatapnya. Tak menjawab. Hanya mengangguk pelan.Keesokan harinya, Reno tidak datang ke sekolah.Arga gelisah. Jam-jam berlalu tanpa kabar. Saat semua pulang, ia tetap menunggu. Hingga akhirnya, sebuah ingatan menuntunnya ke balkon itu.Kosong.Tapi di pagar, ada secarik kertas tertempel dengan selotip.Sebuah surat. Ditujukan untuknya.Terima kasih, Arga. Kamu satu-satunya yang beneran ngelihat aku. Hari ini aku nggak ke sekolah... tapi bukan karena aku menyerah. Aku pergi untuk sembuh. Aku butuh tempat yang nggak nuntut aku jadi sempurna.Teruslah motret. Kamu lihat hal yang orang lain lewatkan. Itu luar biasa.Jangan cari aku. Tapi... terima kasih, ya.Arga berdiri lama di sana. Dunia di sekelilingnya terasa diam. Hanya langit senja yang berubah warna perlahan, seperti hati yang belum tahu harus ke mana, tapi tahu harus tetap berjalan.Setahun kemudian, Arga berdiri di galeri pameran final lomba fotografi nasional. Ia menang.Di tengah ruangan, terpajang sebuah foto besar berjudul Tatapan yang Kembali. Sebuah potret Reno di balkon, dengan langit senja di belakangnya dan sorot mata yang tak banyak orang perhatikan—mata yang menyimpan beban, tapi juga harapan.Banyak pengunjung yang terpaku. Beberapa meneteskan air mata.Seseorang bertanya, “Apa maksud judulnya?”Arga menjawab pelan, nyaris seperti bisikan, “Aku percaya… dia akan kembali dengan tatapan yang baru. Lebih hidup. Lebih bebas.”
19/05/2025
Cerpen : Nilai Tambahan
Super Admin
Tari adalah siswi kelas 12 yang dikenal biasa-biasa saja. Nilainya cukup, tak menonjol. Ia tidak populer, tidak aktif di OSIS, bukan atlet, bukan juga seniman. Bahkan wali kelasnya sering lupa namanya saat absen. Ia duduk di bangku tengah, ikut pelajaran, pulang, dan mengulang hari yang sama. Diam-diam, ia menyukai pelajaran Bahasa Indonesia, terutama saat disuruh menulis esai. Tapi karyanya tak pernah dibacakan di depan kelas. Selalu kalah oleh siswa yang lebih pandai bicara atau lebih menarik perhatian guru. Suatu hari, Bu Risa, guru Bahasa Indonesia, memberi tugas akhir semester: “Tulis surat kepada seseorang yang tidak pernah tahu betapa besar pengaruhnya dalam hidupmu.” Tugas ini akan diberi “nilai tambahan”, dan pemenangnya akan dibacakan di upacara perpisahan kelas 12 nanti. Tari menulis. Ia menulis dengan jujur—bukan kepada orang tua, bukan sahabat, bukan idola. Ia menulis kepada... satpam sekolah.  “Untuk Pak Anton,” "Saya tidak yakin Bapak tahu nama saya. Tapi setiap pagi saat saya datang, Bapak menyapa saya duluan. Di hari saya merasa tidak dianggap, Bapak bilang, ‘Semangat ya, dek.’ Dan di hari saya hampir menyerah, Bapak hanya bilang, ‘Senyum dikit, biar hari cerah.’ Saya ingin Bapak tahu, itu cukup membuat saya bertahan satu hari lagi. Dan itu sudah sangat berarti.” – Dari siswi biasa yang merasa diperhatikan.  Tari menyerahkan tugas itu dan lupa. Ia tidak berpikir akan menang. Hari perpisahan pun tiba. Semua siswa berdandan rapi, orang tua hadir, dan kepala sekolah berpidato panjang. Lalu, Bu Risa naik ke panggung dan berkata, “Tugas terbaik datang dari seseorang yang tidak pernah merasa istimewa, namun menulis dengan hati yang tulus.” Ia mulai membacakan surat Tari—tanpa menyebut nama penulisnya terlebih dahulu. Saat bagian “Untuk Pak Anton” terdengar, seluruh lapangan hening. Di sisi lapangan, Pak Anton, si satpam yang selalu berdiri menjaga gerbang, mematung. Di akhir pembacaan, Bu Risa berkata, “Dan penulis surat ini adalah... Tari.” Semua mata memandang Tari. Ia terkejut, wajahnya merah padam. Pak Anton berjalan perlahan ke depan panggung. Ia menatap Tari, lalu berdiri tegak dan memberi salut. “Terima kasih, Nak,” katanya, suaranya serak. “Saya nggak tahu saya segitu berartinya.”  Hari itu, bukan Tari yang menjadi bintang karena nilai akademik atau prestasi lain. Tapi karena ia melihat sesuatu yang tidak dilihat orang lain. Dan untuk pertama kalinya, Tari merasa benar-benar hadir. 
12/05/2025
Cerpen : Tugas yang Tak Terlihat
 Di sebuah sekolah menengah, terdapat seorang siswa bernama Ardi, yang selalu berusaha terlihat baik di mata teman-temannya. Namun, di balik senyum ramahnya, Ardi menyimpan sebuah kebiasaan yang tidak terpuji: ia sering menyontek tugas dari teman-temannya. Suatu hari, saat ujian matematika mendekat, Ardi merasa cemas. Meskipun ia sudah belajar, ia merasa tidak cukup siap. Ia pun memutuskan untuk menyontek tugas matematika temannya, Dika. Dika adalah siswa yang selalu mendapatkan nilai sempurna di kelas, dan Ardi tahu bahwa menyontek dari Dika bisa memberikan solusi cepat. Namun, di balik keputusan itu, Ardi tidak sadar bahwa ia sedang mengambil jalan pintas yang penuh dengan konsekuensi. Dika yang awalnya tidak sadar, akhirnya tahu bahwa Ardi selalu menyalin jawabannya. Awalnya, Dika ragu untuk mengatakan sesuatu. Namun, ia mulai merasa tidak nyaman melihat teman baiknya mengambil keuntungan dari kerja kerasnya. Dika pun memutuskan untuk berbicara. "Ardi, aku tahu kamu menyontek tugasku," kata Dika dengan suara tenang namun tegas. Ardi terkejut, wajahnya langsung berubah merah. "Apa maksudmu? Aku tidak..." "Jangan bohong, Ardi. Aku tahu kamu selalu menyalin jawabanku setiap kali ada tugas matematika. Aku tidak ingin kamu terus seperti ini," kata Dika lagi, kali ini dengan lebih serius. Ardi terdiam. Ia merasa malu, tetapi juga bingung. Di satu sisi, ia merasa tidak mampu menyelesaikan tugas tanpa bantuan, tetapi di sisi lain, ia tahu bahwa tindakan itu salah. "Tapi aku takut nggak bisa mengerjakan tugas kalau nggak nyontek," jawabnya, mencoba mencari pembenaran. Dika menatap Ardi dengan bijak. "Menyontek itu seperti korupsi, Ardi. Kamu merampas hasil kerja keras orang lain untuk keuntunganmu sendiri. Jika kamu terus seperti ini, kamu nggak akan pernah tahu kemampuan sejati dirimu." Ardi merasa seperti tersadar dari sebuah mimpi buruk. Ia teringat bagaimana ia selalu menilai orang yang melakukan kecurangan dalam ujian atau tugas sebagai orang yang tidak jujur. Tapi, ia tidak pernah menyadari bahwa ia sendiri telah melakukan hal yang sama. Hari berikutnya, Ardi memutuskan untuk mengambil langkah besar. Ia mendekati guru matematika mereka dan mengakui bahwa ia sering menyontek dari temannya. Guru itu tidak marah, tetapi memberikan sebuah nasihat yang mendalam. "Ardi, kamu memilih jalan yang salah untuk mendapatkan hasil. Korupsi dalam bentuk apapun, baik itu di dunia nyata atau di sekolah, hanya akan merusak dirimu sendiri. Kejujuran dan kerja keras adalah kunci untuk mencapai kesuksesan yang sejati," kata guru tersebut. Ardi merasa ringan setelah mengakui kesalahannya. Ia bertekad untuk mulai mengerjakan tugas dengan usaha sendiri, tanpa menyontek lagi. Meskipun langkah itu tidak mudah, ia tahu bahwa ia harus berjuang untuk menjadi lebih baik, bukan hanya di mata orang lain, tetapi juga di mata dirinya sendiri. Sejak saat itu, Ardi mulai belajar dengan lebih giat dan tekun. Nilai-nilainya tidak langsung sempurna, tetapi ia merasa bangga karena ia mendapatkan hasil tersebut dengan usaha sendiri. Dan, meskipun ia tahu prosesnya akan panjang, Ardi percaya bahwa kejujuran dan kerja keras akan membawa hasil yang lebih baik daripada jalan pintas yang penuh dengan kecurangan. Dika, yang awalnya merasa kecewa, akhirnya melihat perubahan pada Ardi. Mereka berdua kini belajar bersama, saling mendukung tanpa ada yang menyontek, dan itu membuat hubungan mereka menjadi lebih baik. Ardi pun sadar, bahwa dalam hidup, kejujuran adalah hal yang paling penting, lebih dari sekadar nilai atau penghargaan. 

Popular

PENGUMUMAN KELULUSAN SISWA KELAS XII SMA PGII 2 BANDUNG

PENGUMUMAN KELULUSAN SISWA KELAS XIISMA PGII 2 BANDUNGSMA PGII 2 Bandung dengan bangga mengumumkan hasil kelulusan siswa kelas XII Tahun Pelajaran berjalan. Setelah melalui rangkaian proses pembelajaran dan penilaian, seluruh siswa telah mencapai tahap akhir pendidikan di jenjang Sekolah Menengah Atas.Informasi kelulusan dapat diakses secara online melalui tautan berikut:https://bit.ly/report-kelulusan-sma-pgii2Tata Cara Melihat Pengumuman:Buka tautan pengumuman melalui link yang telah disediakan.Masukkan NAMA LENGKAP dan tulis dengan huruf KAPITALKlik tombol “Lihat Hasil” atau “Cek Kelulusan”.Hasil kelulusan akan ditampilkan pada layar.Klik link surat untuk menyimpan atau mengunduh surat kelulusan.Simpan atau cetak dokumen sebagai arsip pribadi.🎉 Selamat kepada seluruh siswa yang dinyatakan lulus!Semoga kelulusan ini menjadi awal dari langkah baru yang penuh semangat, prestasi, dan kesuksesan. Teruslah berjuang dan berkarya di jenjang berikutnya.⚠️ PENTING – IMBAUAN UNTUK SEMUA SISWA:Demi menjaga ketertiban dan nama baik sekolah, maka:🚫 DILARANG melakukan perayaan kelulusan dalam bentuk:Konvoi kendaraan di jalanCoret-coret seragamPesta yang mengganggu ketertiban umumMari rayakan kelulusan ini dengan cara yang positif, bijak, dan mencerminkan karakter siswa SMA PGII 2 Bandung yang berakhlak mulia dan bertanggung jawab.Terima kasih atas perjuangan dan dedikasi kalian selama ini.SMA PGII 2 Bandung bangga kepada kalian semua! 💙

Kilas Balik Prestasi: Siswa-Siswi SMA PGII 2 Bandung Terus Torehkan Tinta Emas

Komitmen SMA PGII 2 Bandung dalam membina potensi akademik dan non-akademik siswa kembali membuahkan hasil membanggakan. Dalam kurun waktu belakang ini, deretan prestasi berhasil diraih oleh putra-putri terbaik sekolah di berbagai ajang kompetisi, mulai dari tingkat kota hingga nasional.Kepala SMA PGII 2 Bandung menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas kerja kertas para siswa serta dukungan penuh dari guru pembimbing.Daftar Pencapaian SiswaBerikut adalah rekapitulasi prestasi yang berhasil diraih oleh siswa-siswi SMA PGII 2 BandungAbdad Luigio X-1, Juara 2 pada Kejuaraan Tasikmalaya Skate Championship 2025 Regional Jawa Barat, 8-11 Agustus 2025Diva Mustika Dewi XII MIPA 1, Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (PASKIBRAKA) kecamatan Kiaracondong, 17 Agustus 2025Raden Daffa Andratama Suryamihardja X-1, Juara 2 Junior Kumite Perorangan-76 Kg pada Kejuaraan Bogor Karate Championship Sirkuit IV Jawa Barat & BK Porprov Jawa Barat 2025, 26-28 September 2025Hershel Meilano X-1, Juara 1 200 m Gaya Ganti Perorangan KU SMA Putra dan Perenang Terbaik kelompok SMA Putra pada Kejuaraan BAPOSI-Student Swimming Competition Tahun 2025Raden Daffa Andratama Suryamihardja X-1, Juara 1 Junior Kumite-76 Kg Putra pada Kejuaraan Liga Karate antar Pelajar Seri 3 se-Jawa Barat Tahun 2025, 31 Oktober - 2 November 2025Azra Adiva Darmawangsa XII MIPA 2, Juara Favorit lomba Nasional 3-minutes speech Dies Natalies BK UPI, 10-15 November 2025Raden Daffa Andratama Suryamihardja X-1, Juara 1 Junior Kumite-76 Kg Putrea pada Kejauraan Daerah INKANAS Jawa Barat pada KAPOLDA CUP 2026, 06-08 Februari 2026Hershel Meilano X-1, 5th Place 200 m Gaya Ganti, 4th Place 100 m Gaya Bebas, 5th Place 100 m Gaya Dada Fins, 4th Place 50 m Gaya Bebas, pada Kejuaraan Renang Haris Sanjaya CUP I, 07 Februari 2026Kanayya Ayatulhusna X-3, Juara 2 Poomsae Junior Pair Putri pada Kejuaraan ITN OPEN IX Se-Jawa Barat, 14 Februari 2026Abdillah Rais Koesoema Putra XI-3, Juara 2 Kyorugi Senior O 87 Putra pada Kejuaraan ITN OPEN IX Se-Jawa Barat, 14 Februari 2026Semangat BerkelanjutanKeberhasilan ini diharapkan dapat menjadi pemantik semangat bagi seluruh siswa SMA PGII 2 Bandung lainnya untuk berani mengeksplorasi minat dan bakat mereka. Pihak sekolah menegaskan akan terus memfasilitasi setiap langkah siswa dalam meraih mimpi, baik di bidang sains, seni, maupun olahraga.Pencapaian ini juga memperkuat posisi SMA PGII 2 Bandung sebagai institusi pendidikan yang tidak hanya fokus pada kecerdasan intelektual, tetapi juga pengembangan bakat yang kompetitif di era global."Kemenangan hari ini adalah langkah awal untuk tantangan yang lebih besar di masa depan. Selamat kepada para pemenang!"

WISUDA TAHFIDZ QURAN 2026

Segala rasa Syukur, bangga dan haru menyelimuti keluarga besar SMA PGII 2 Bandung pada hari Jumat, 17 April 2026, SMA PGII 2 Bandung kembali mengukir sejarah dengan menyelenggarakan Wisuda Tahfidz Al-Qur’an Gelombang 4. Acara sakral ini berlangsung di Aula SMA PGII 2 Bandung dengan penuh khidmat dan semangat kebersamaan. Sebanyak 65 peserta resmi diwisuda setelah berhasil melewati proses Munaqosyah Tahfidzul Qur’an yang dilaksanakan pada bulan Januari 2026. Dari total 174 peserta yang berasal dari kelas X, XI, dan XII, hanya mereka yang memenuhi standar kelulusan yang berhak mengikuti prosesi wisuda kali ini.Wisuda Tahfidz bukan sekadar seremoni, melainkan momentum penting untuk meneguhkan komitmen para peserta dalam menjaga dan mengamalkan Al-Qur’an dalam kehidupan keseharian. Keberhasilan mereka menjadi bukti nyata bahwa generasi muda atau yang dikenal dengan Generasi Z mampu menumbuhkembangkan kecintaan terhadap Al-Qur’an dengan semangat belajar di era digitalisasi.Acara berlangsung dengan penuh kekhidmatan, diiringi lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an dari seluruh peserta wisuda tahfidz quran dan doa bersama. Kehadiran orang tua tercinta, keluarga serta seluruh civitas akademika SMA PGII 2 Bandung menambah nuansa haru dan kebanggaan. Prosesi pengalungan selempang, penyerahan sertifikat hafalan dan pemberian reward berupa Mushaf Al Qur’an menjadi simbol penghargaan atas perjuangan panjang para wisudawan dan wisudawati. Dengan terselenggaranya Wisuda Tahfidz Gelombang 4 ini, SMA PGII 2 Bandung berharap semakin banyak peserta didik yang termotivasi untuk memberikan effort lebih di jalan mulia sebagai penjaga Al-Qur’an. Semoga para wisudawan dan wisudawati senantiasa istiqamah dalam mengamalkan ilmu yang telah diraih, serta menjadi teladan bagi generasi berikutnya. Allahummabaarik. Barakallahufiikum.

Selamat dan Sukses! 19 Siswa SMA PGII 2 Bandung Diterima di PTN Jalur Prestasi Akademik dan SNBP 2026

Kabar membanggakan datang dari SMA PGII 2 Bandung! Sebanyak 19 siswa berhasil lolos melalui prestasi akademik dan Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) tahun 2026 dengan persentase sebesar 45,23% dari jumlah pendaftar dan diterima di berbagai Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Indonesia.Capaian ini merupakan hasil dari kerja keras siswa, dukungan guru, serta doa dari orang tua dan seluruh keluarga besar sekolah. Berikut adalah nama-nama siswa yang berhasil lolos, lengkap dengan jurusan dan perguruan tinggi yang dituju:​Universitas Padjadjaran (UNPAD)1. Kayyisah Firyal Sujadi - Ilmu Peternakan2. Salsa Mega Cantigi - Ilmu Kelautan3. Rehasya Ainunmahya - Agribisnis4. Salima Putri Celya - Agroteknologi5. Alikha Putri Salsabila - Fisika6. Aulia Nur Azizah - Bahasa dan Budaya Tiongkok7. Naufal Anas Athallah - Matematika8. Azra Adiva Darmawangsa - Hubungan Masyarakat (Jalur IUP 2026)9. Dini Fikamala - Administrasi Bisnis10. Azka Nuril Fauzsn - Ilmu Sejarah11. Haifa Aghniya Mutiaranisa - Sastra Jepang12. Abyan Faiz Nafiza - Bisnis LogistikUniversitas Pendidikan Indonesia (UPI)1. Diva Mustika Dewi - PGSD Bumi Siliwangi2. M. Ar Rozak Saiful Azhar - Pendidikan Tata Boga3. Malik Fathan Annisyaf - Fisika4. Anisa Karlina Putri - PGSD Bumi Siliwangi5. Syawal Faza Xavier Wangga - Pendidikan Seni MusikPoliteknik Negeri Bandung (POLBAN)1. Morhiza Praja Ramadhan - Manajemen AsetPoliteknik Kesehatan (Poltekkes)1. Khaira Hapsyah Alzena - D4 Keperawatan InternasionalSeluruh keluarga besar SMA PGII 2 Bandung mengucapkan Selamat dan Sukses atas pencapaian yang luar biasa ini. Semoga prestasi ini menjadi motivasi bagi seluruh siswa SMA PGII 2 Bandung untuk terus konsisten dalam belajar, mengembangkan potensi diri, dan pantang menyerah dalam menggapai cita-cita di masa depan.Bagi siswa yang belum lolos, jangan berkecil hati. Masih banyak peluang lain yang menanti. Teruslah berjuang dan percaya bahwa setiap usaha pasti akan membuahkan hasil!

Telah Dibuka Pendaftaran SPMB SMA PGII 2 Bandung Tahun Ajaran 2026/2027

Bandung, Oktober 2025 - SMA PGII 2 Bandung telah resmi membuka pendaftaran Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) untuk Tahun Ajaran 2026/2027. Pendaftaran dibuka mulai Oktober 2025 hingga Juli 2026, setiap hari Senin sampai dengan Sabtu pukul 08.00 - 15.00 WIB.Calon peserta didik dapat melakukan pendaftaran secara daring (online) atau secara langsung (offline) di kampus SMA PGII 2 Bandung, yang beralamat di:Jl. Pahlawan  Belakang No.17, Kelurahan Sukaluyu, Kecamatan Cibeunying Kaler, Kota Bandung.SMA PGII 2 Bandung berkomitmen untuk memberikan pendidikan berkualitas dengan mengedepankan karakter, kompetensi, dan nilai-nilai keislaman, guna mencetak generasi yang unggul dalam bidang akademik dan non-akademik. Bagi para orang tua dan calon peserta didik yang ingin bergabung menjadi keluarga besar SMA PGII 2 Bandung, segera lakukan pendaftaran sebelum kuota terpenuhi. Tim panitia penerimaan siap membantu serta memberikan informasi lengkap mengenai proses pendaftaran, dan program unggulan sekolah.Informasi lebih lanjut:Hubungi Panitia SPMB melalui WhatsApp di nomor 085179913519, atauKunjungi media sosial resmi SMA PGII 2 Bandung: SMA PGII 2 Official (Instagram, Tiktok, Youtube)Mari bergabung dan tumbuh bersama di lingkungan sekolah yang bemutu, bermartabat, dan bernuansa pesantren.SMA PGII 2 Bandung - Membangun Generasi  CAKEP (Cerdas, Agamis, Kreatif, Energik, dan Prestatif)